Faktor Dampak dan h-indeks untuk Menilai Kinerja Jurnal

Pengukuran kinerja jurnal atau monitoring dampak jurnal adalah suatu cara memantau kinerja jurnal dengan meninjau dampak terhadap masyarakat atau ilmu pengetahuan yang diakibatkan oleh terpublikasinya artikel-artikel dari suatu jurnal, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Beberapa hal tersebut yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja jurnal, antara lain:

  1. Kerjasama (Collaboration): Seberapa besar dampak kerjasama jejaring yang diakibatkan oleh kegiatan jurnal? Bagaimana status kolega dalam jejaring jurnal tersebut?
  2. Output Publikasi (Scholarly Output): Seberapa besar produktifitas jurnal? Seberapa dampak atau sitasi yang diperoleh jurnal? Seberapa besar jumlah artikel yang dapat dipublikasi oleh jurnal?
  3. Penggunaan jurnal (Usage): Seberapa besar pengunjung ke website jurnal? Seberapa banyak artikel jurnal dibaca dan akhirnya dirujuk? Seberapa besar pelanggan jurnal?
  4. Status jurnal (Journal Status): Bagaimana dengan perkembangan status jurnal, mulai dari jurnal nasional hingga jurnal internasional dan/atau terakreditasi SINTA 1 hingga SINTA 6? Perkembangan jumlah sitasi relatif terhadap jumlah artikel yang dipublikasi dapat merupakan salah satu yang menentukan status jurnal.
  5. Metrik Jurnal/Artikel (Journal / Article Metrics): Jumlah pengindeks, jumlah total sitasi pada jurnal, jumlah sitasi per artikel, factor dampak, dan nilai h-index dapat merupakan alat untuk mengukur metrik jurnal secara kuantitatif.

Faktor dampak (Impact Factor) adalah salah satu cara untuk mengevaluasi kualitas jurnal yang dilakukan oleh Web of Science (Clarivate Analytics). Indikator ini telah dipandang menjadi indikator utama untuk mengukur secara kuantitatif kualitas sebuah jurnal, paper risetnya, peneliti yang menulis paper tersebut, dan bahkan institusi dimana mereka bekerja. Ada berbagai macam versi pengukuran faktor dampak jurnal ini, misalnya: Impact Factor (IF), CiteScore, Scimago Journal Ranking (SJR), Source Normalized Impact per Paper (SNIP), dan nilai h-index.  Faktor dampak jurnal adalah ukuran seberapa sering artikel-artikel pada sebuah jurnal telah disitasi pada periode tahun perhitungan tertentu. Faktor dampak ini membantu dalam mengevaluasi seberapa pentingnya jurnal secara relatif, khususnya ketika membandingkan suatu jurnal dengan jurnal lainnya dalam bidang ilmu yang sama. Perhitungan faktor dampak ini ada berbagai versi tergantung agen yang mengeluarkan faktor dampak tersebut, ada yang berdasarkan artikel dua tahun terakhir dan ada juga yang tiga tahun terakhir, ada juga yang menggunakan perhitungan statistic yang rumit.

Impact Factor (IF) yang pertama kali digagas oleh Eugene Garfield (1950) dikeluarkan oleh Web of Science (Clarivate Analytics yang dulunya Thomson Reuters ISI). Hanya jurnal-jurnal yang sudah terindeks di Science Citation Index Expanded (SCIE) atau Social Science Citation Index (SSCI) saja yang akan mendapatkan nilai Impact Factor (IF) secara resmi. Data-data jumlah sitasi dari jurnal yang diperhitungkan hanya khusus berdasarkan database yang dikeluarkan oleh Web of Science (Clarivate Analytics).  Cara perhitungan Impact Factor (IF) adalah:

Contoh:

Sebuah jurnal A sudah mempublikasi artikel pada tahun 2017 sejumlah 61 artikel, dan pada tahun 2018 sejumlah 61 artikel. Jurnal A tersebut telah mendapat sitasi dari artikel-artikel jurnal (jurnal lain dan jurnal itu sendiri) pada publikasi tahun 2019 khusus yang mengarah ke artikel telah dipublikasi tahun 2017-2018 sejumlah 126 sitasi.

Maka Impact Factor (IF) Tahun 2019 Jurnal A adalah 126 / (61+61) = 1,033.

Hampir mirip dengan Impact Factor (IF) tersebut adalah CiteScore. CiteScore dikeluarkan oleh Elsevier. Hanya jurnal-jurnal yang sudah terindeks Scopus saja yang mendapatkan nilai CiteScore. Data-data jumlah sitasi dari jurnal yang diperhitungkan hanya khusus berdasarkan database yang dikeluarkan oleh Elsevier (Scopus Database). Perhitungan CiteScore adalah:

Contoh:

Sebuah jurnal B sudah mempublikasi artikel pada tahun 2016 sejumlah 51 artikel, tahun 2017 sejumlah 59 artikel, dan tahun 2018 sejumlah 60 artikel. Jurnal B tersebut telah mendapat sitasi dari artikel-artikel jurnal (jurnal lain dan jurnal itu sendiri) pada publikasi tahun 2019 khusus yang mengarah ke artikel telah dipublikasi tahun 2016-2018 sejumlah 216 sitasi.

Maka CiteScore Tahun 2019 Jurnal B adalah 216 / (51+59+60) = 1,271.

Metrik lainnya adalah Scimago Journal Ranking (SJR) yang dipublikasi di website scimagojr.com. SJR ini juga menghitung faktor dampak jurnal dengan mempertimbangkan jumlah sitasi yang diterima jurnal, reputasi (nilai SJR) jurnal yang mensitasi, jumlah rujukan pustaka (references) jurnal, jumlah artikel yang dipublikasi oleh jurnal pada tiga tahun sebelumnya (X-1, X-2, dan X-3).  Hanya jurnal-jurnal yang sudah terindeks Scopus saja yang mendapatkan nilai SJR. Data-data jumlah sitasi dari jurnal yang diperhitungkan hanya khusus berdasarkan database yang dikeluarkan oleh Elsevier (Scopus Database). Perhitungan SJR ini lebih rumit dengan banyak faktor pertimbangan tersebut secara statistik dan iteratif.

Source Normalized Impact per Paper (SNIP) digagas oleh Professor Henk Moed dari Centre for Science and Technology Studies (CTWS), University of Leiden (website: https://www.journalindicators.com/). SNIP ini mengukur faktor dampak jurnal (seperti metrik lainnya), namun dengan mempertimbangkan kecenderungan atau potensi sitasi tiap bidang ilmu, menggunakan data di database Scopus.  SNIP ini mengkoreksi perbedaan kecenderungan atau potensi tiap bidang ilmu, karena tidak setiap bidang ilmu mempunyai potensi atau kecenderungan sitasi yang sama. Oleh karena itu,  SNIP ini lebih akurat jika digunakan untuk membandingkan jurnal antar bidang ilmu.

Salah satu instrument untuk mengukur reputasi jurnal adalah nilai h-index. H-index mengukur reputasi jurnal berdasarkan produktifitas dan dampak/sitasi secara bersamaan. H-index ini digagas oleh Jorge E. Hirsch pada tahun 2005 (UC San Diego)  dan dinamakan juga dengan Hirsch index or Hirsch number. Nilai h-index 11 berarti jurnal tersebut sudah mempublikasi minimum 11 artikel yang sudah memiliki jumlah sitasi minimum 11 sitasi per artikel. H-index ini juga menyatakan seberapa besar sebaran sitasi yang diterima jurnal. H-index ini juga menyiratkan sebaran kualitas artikel yang sudah mendapatkan sitasi.

Kinerja jurnal tidak hanya dimonitor dari faktor dampak saja, tetapi faktor-faktor lain juga penting untuk dijadikan instrumen dalam mengukur kinerja jurnal, antara lain:

  1. Jumlah kunjungan unik pelanggan atau pengunjung website jurnal.
  2. Jumlah frekuensi unduhan fulltext artikel jurnal.
  3. Jumlahrujukan atau sitasi dalam periode tertentu (misal tiga tahun terakhir).
  4. Jumlah lembaga pengindeks.
  5. Faktor-faktor lain yang merupakan kombinasi dari beberapa instrument tersebut dalam hal untuk keperluan tertentu.